
Palembang, SumselSatu.com
Dunia usaha tidak selalu berjalan mulus. Seringkali, tantangan terbesar justru menjadi pintu pembuka bagi peluang yang lebih besar. Hal inilah yang dialami oleh Irma Bestari, pemilik Kedai Yuk Irma, sebuah destinasi kuliner yang kini menjadi favorit di kawasan Palembang.
Siapa sangka, sebelum sukses di dunia kuliner, Irma adalah seorang pengusaha salon kecantikan. Namun, badai pandemi Covid-19 pada tahun 2020 mengubah segalanya. Pembatasan aktivitas membuat pelanggan salon menyusut drastis hingga hampir tidak ada sama sekali.
”Dulu saya fokus di salon, tapi waktu pandemi benar-benar sepi. Akhirnya setelah setahun bertahan, saya harus putar otak karena usaha salon tidak bisa lagi berjalan seperti dulu,” kenang Irma.
Ketajaman insting bisnis Irma muncul saat ia mengamati lokasi usahanya yang strategis, yakni dikelilingi oleh indekos mahasiswa. Ia melihat adanya kebutuhan akan konsumsi harian yang terjangkau dan enak. Dengan keberanian untuk berpindah haluan (pivot), lahirlah Kedai Yuk Irma pada tahun 2021.
“Karena tempatnya dekat kos-kosan mahasiswa, saya kepikiran untuk coba jualan makanan. Dari situlah akhirnya lahir Kedai Yuk Irma sebagai usaha kuliner,” ujar Irma saat ditemui di kedai miliknya di Jalan Kopral Umar Said, Kecamatan Ilir Timur I, Senin (20/4/2026).

Dengan modal awal sekitar Rp5 juta, Irma mulai melengkapi peralatan masaknya secara mandiri. Ia memisahkan dengan tegas aset rumah tangga dan aset usaha, sebuah langkah kecil namun krusial dalam manajemen keuangan bisnis.
“Modal awal sekitar 5 juta, dipakai untuk beli kompor dan alat-alat masak. Saya juga pisahkan alat rumah dengan alat jualan,” katanya.
Pada awal berjualan, Irma memilih untuk menyajikan menu-menu yang dekat di hati masyarakat Palembang dan ramah di kantong mahasiswa.
“Awalnya saya jualan bakso, mie ayam, tekwan, pempek, dan makanan khas Palembang lainnya. Seiring berjalannya waktu, usaha ini mendapat respon yang sangat baik dari mahasiswa dan mahasiswi di sekitar lokasi,” katanya.
Seiring bertambahnya pelanggan, Irma mulai meningkatkan level pengelolaannya. Dari yang awalnya berjualan dengan santai, kini Kedai Yuk Irma dikelola dengan lebih serius dan teratur.
Fasilitas pun diperbaiki. Irma memperluas area makan, menambah jumlah kursi, hingga mempercantik dekorasi kedai agar pembeli merasa lebih nyaman. Baginya, kenyamanan pelanggan adalah investasi jangka panjang.
“Karena makin ramai, saya mulai menambah menu, memperluas tempat, dan menambah kursi supaya pembeli lebih nyaman. Tidak hanya itu, dekorasi kantin juga diperbaiki agar terlihat lebih menarik dan pelayanan pun semakin ditingkatkan,” kata Irma.
“Jika sebelumnya usaha dijalankan dengan santai, kini pengelolaannya menjadi lebih serius. Dulu jualan santai saja, sekarang sudah lebih teratur dan fokus karena pembelinya juga makin banyak,” sambungnya.

Menghadapi Tantangan Musim Sepi
Dari sisi performa finansial, Kedai Yuk Irma kini mampu mencatatkan omzet rata-rata bulanan sebesar Rp12 juta. Namun, Irma menekankan pentingnya disiplin arus kas (cash flow), di mana pendapatan diputar kembali untuk penguatan modal dan biaya operasional.
Sebagai pengusaha, Irma juga sangat menyadari adanya tantangan fluktuasi pasar, terutama saat masa libur akademik di mana basis pelanggan utamanya (mahasiswa) melakukan mudik.
“Cukup berpengaruh terhadap pendapatan, jadi saya tidak bisa hanya diam saja. Saya harus pintar mencari cara agar usaha tetap berjalan, misalnya dengan menjaga kualitas, mencoba menarik pelanggan lain atau mencari strategi baru. Dengan begitu, walaupun keadaan sedang sepi, usaha tetap bisa bertahan dan tidak berhenti begitu saja,” katanya.
”Kondisi sepi adalah risiko bisnis. Kuncinya adalah tidak pasif. Kami tetap menjaga kualitas produk dan merumuskan strategi pemasaran baru agar bisnis tetap memiliki daya tahan meski di periode low season,” tambahnya.
Perjalanan Kedai Yuk Irma selama enam tahun terakhir merupakan studi kasus nyata mengenai pentingnya Agilitas Bisnis. Keberanian Irma Bestari untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan riset pasar berbasis lokasi terbukti menjadi penyelamat ekonomi keluarga sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Kisah ini memberikan pesan kuat bagi para calon wirausaha bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi oleh ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan kecermatan dalam mengeksekusi peluang di tengah situasi sesulit apa pun. Sebuah usaha kecil dapat tumbuh dan memberikan hasil yang menjanjikan. (Penulis: Ristia Amalia, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).
INFORMASI USAHA:
Nama Usaha: Kedai Yuk Irma
Tahun Berdiri: 2021 (Transformasi dari
usaha salon sejak 2020).
Lokasi: Jalan Kopral Umar Said No.3305, 20 Ilir D. III, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang.
Area Strategis: Dekat dengan kawasan indekos mahasiswa dan kampus (Universitas Tridinanti).
Modal Awal: Rp5.000.000 (Alokasi: Alat masak profesional & kompor).
Omzet Rata-rata: ± Rp12.000.000 per bulan.
Segmen Pasar Utama: Mahasiswa, pelajar, dan masyarakat sekitar.
Strategi Bertahan: Menjaga kualitas rasa, manajemen keuangan yang terpisah (aset usaha vs pribadi), dan adaptasi promosi saat musim sepi (libur akademik).
Media Sosial: @irmabestari (Instagram/TikTok) | Irma Bestari (Facebook).










