Dari Hobi Jadi Cuan: Perjuangan Mak Sandi Mengubah Adonan Menjadi Penopang Keluarga

KUE  BASAH----Mak Sandi membuktikan bahwa hobi memasak bukan sekadar pelarian dari rutinitas, tapi bisa menjadi pilar ekonomi keluarga. (FOTO: Istimewa/Marsanda).

Palembang, SumselSatu.com

Bagi sebagian orang, dapur adalah tempat menyelesaikan kewajiban harian. Namun bagi Asnaini, dapur adalah ruang imajinasi. Di sanalah, berawal dari sekadar hobi mengolah tepung dan gula di waktu luang pada 2019, ia kini berhasil mengubah kesenangan menjadi pilar ekonomi yang nyata bagi keluarganya.

Di ruangan yang harum dengan aroma gula malaka dan pandan itu, ibu rumah tangga (IRT) itu merajut harapan. Apa yang dimulai sebagai kegemaran mengisi waktu luang, kini telah bertransformasi menjadi Dapur Mamak Sandi, sebuah usaha mikro yang menjadi saksi bisu keteguhan hati seorang ibu di Perumahan Griya Sako Asri, Palembang.

Ia tidak menyangka, kue-kue tradisional Palembang yang awalnya hanya dibuat untuk mengisi waktu dan dinikmati keluarga, justru mendapat sambutan hangat dari tetangga sekitar Perumahan Griya Sako Asri. Tekstur yang pas dan rasa yang jujur membuat permintaan mulai berdatangan. Dari situ muncul keberanian untuk menjadikannya sebagai peluang usaha.

“Dulu awalnya cuma hobi, senang saja lihat keluarga suka makan masakan saya. Tapi ternyata tetangga juga cocok. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak diseriusi saja jadi usaha?” kenang Asnaini yang biasa disapa Mak Sandi dengan senyum tipis.

Seiring berjalannya waktu, Dapur Mamak Sandi mulai dikenal dan diterima oleh pasar. Produk yang ditawarkan memiliki cita rasa khas rumahan yang autentik, terutama pada kue-kue basah khas Palembang yang menjadi daya tarik utama.

Dari dapurnya, lahir produk-produk premium yang menjadi incaran pelanggan, mulai dari Maksuba yang legit, Lapis Legit yang aromatik, hingga kesegaran Lapis Nanas.

Tak hanya itu, ia juga piawai mengolah Engkak Ketan yang kenyal nan gurih, serta Lapis Koju yang khas. Sebagai pelengkap renyah di sela-sela kue manisnya, Mak Sandi memproduksi Telur Gabus setiap hari, camilan sederhana yang diproduksi setiap hari dan menjadi salah satu produk andalan yang diminati berbagai kalangan.

​”Membuat Maksuba atau Engkak itu tidak bisa buru-buru. Harus dirawat apinya, dijaga lapisannya. Sama seperti merawat usaha ini, butuh kesabaran ekstra agar hasilnya manis,” tutur Mak Sandi sambil tersenyum.

Dalam menjalankan operasionalnya, Dapur Mamak Sandi mengusung sistem produksi harian yang sederhana namun efektif. Telur gabus diproduksi setiap hari dan didistribusikan melalui sistem konsinyasi (titip barang) ke berbagai warung dan toko. Meski begitu, pelayanan langsung tetap menjadi prioritas. Usaha ini tetap beroperasi dari rumah, sehingga pelanggan dapat melakukan pemesanan kapan saja sesuai kebutuhan.

Lokasi usaha yang berada di Perumahan Griya Sako Asri memberikan kemudahan akses bagi pelanggan sekitar. Selain itu, untuk memperluas jangkauan pasar, Dapur Mamak Sandi juga aktif membuka stand di Pasar Sako Mandiri, khususnya saat bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Momen tersebut menjadi waktu yang sangat tepat karena permintaan kue basah khas Palembang meningkat signifikan.

Namun, dunia usaha tak selamanya semanis kue buatannya. Baru setahun melangkah, pandemi Covid-19 menghantam di tahun 2020. Di tengah ketidakpastian ekonomi, pesanan yang biasanya mengalir deras tiba-tiba menyusut drastis. Bagi usaha mikro yang baru seumur jagung, situasi ini nyaris mematikan api di dapurnya.

​Di saat itulah, Mak Sandi membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan cinta memiliki daya tahan yang berbeda. Didukung penuh oleh suami dan anak-anaknya, ia menolak untuk menyerah. Ia tetap memproduksi telur gabus setiap hari, menitipkannya dari warung ke warung, dan menjaga kualitas rasa agar tidak berubah sedikit pun.

Meski demikian, dengan semangat pantang menyerah, Dapur Mamak Sandi tetap bertahan dan perlahan bangkit seiring membaiknya kondisi ekonomi.

Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, terutama dengan banyaknya pelaku usaha serupa di sekitar, Dapur Mamak Sandi memiliki strategi tersendiri untuk tetap bertahan. Kunci utamanya adalah menjaga kualitas rasa dengan menggunakan bahan-bahan premium serta terus berinovasi dalam produk. Prinsip ini diyakini mampu mempertahankan kepercayaan pelanggan sekaligus menarik minat konsumen baru.

​”Waktu pandemi itu benar-benar ujian mental. Tapi saya pikir, kalau saya berhenti, semangat keluarga juga ikut padam. Saya bertahan karena saya yakin, kualitas rasa dan ketulusan dalam membuat kue tidak akan pernah mengkhianati hasil,” ungkap Mak Sandi dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Dapur Mamak Sandi telah melampaui masa sulit tersebut. Dengan sistem manajemen kekeluargaan yang sederhana namun efisien, usaha ini mampu meraup omzet hingga Rp8.000.000 per tahun. Meski tergolong kecil bagi korporasi besar, bagi keluarga Mak Sandi, angka tersebut adalah simbol kemandirian dan keberhasilan sebuah usaha mikro.

​Setiap bungkus kue yang keluar dari rumahnya adalah hasil kerja keras kolektif. Suami dan anak-anaknya bahu-membahu membantu operasional, menciptakan sebuah harmoni bisnis yang berbasis kasih sayang.

Hingga saat ini, usaha Dapur Mamak Sandi masih dikelola secara mandiri oleh pemilik, dengan bantuan dari suami dan anak-anaknya. Sistem manajemen yang digunakan memang sederhana, namun justru menjadi kekuatan tersendiri karena fleksibel dan efisien. Kebersamaan keluarga dalam menjalankan usaha juga menjadi nilai tambah yang memperkuat keberlanjutan bisnis ini.

​”Harapan saya, Dapur Mamak Sandi ini bisa terus tumbuh. Saya ingin membuktikan bahwa dari rumah, seorang ibu bisa memberikan kontribusi nyata untuk ekonomi keluarga. Kuncinya cuma satu, kerjakan apa yang kita cintai dengan sungguh-sungguh, maka rezeki (cuan) itu akan datang sebagai bonusnya,” tutupnya sembari mengemas pesanan pelanggan.

Kisah Dapur Mamak Sandi menjadi bukti bahwa usaha yang berangkat dari hobi, jika ditekuni dengan serius, dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi. Dengan menjaga kualitas produk, konsistensi, inovasi, kreatifitas serta kemampuan beradaptasi terhadap tantangan. Usaha mikro seperti ini mampu bertahan dan terus tumbuh di tengah perubahan zaman. (Penulis: Marsanda, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

PROFIL DATA USAHA

​Nama Usaha: Dapur Mamak Sandi

​Tahun Berdiri: 2019

​Sektor Usaha: Kuliner (Makanan Tradisional & Camilan).

​Lokasi Pusat: Perumahan Griya Sako Asri, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Produk: Kue Basah Khas Palembang (Maksuba, Lapis Legit, Lapis Nanas, Engkak Ketan, Lapis Koju, Telur Gabus).

Sistem Produksi: Produksi harian berbasis rumahan (Home-based Industry).

Estimasi Omzet: ± Rp8.000.000 per tahun.

​Rekam Jejak Resiliensi: Berhasil bertahan melewati krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 (2020) dengan strategi menjaga kualitas rasa dan efisiensi tenaga kerja keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here