Pak Habibi dan Telur Gulungnya: Tentang Konsistensi Selama 20 Tahun

KONSISTENSI----Setia dengan telur gulungnya sejak 2006, Pak Habibi adalah potret konsistensi di tengah gempuran kuliner modern. Sebuah dedikasi yang digoreng dalam doa dan kerja keras setiap harinya. (FOTO: Istimewa/Tiara Nafitri).

Palembang, SumselSatu.com

Di bawah terik matahari Palembang, tangan Pak Habibi tampak begitu lincah. Dengan satu gerakan memutar yang presisi, ia menangkap adonan telur yang berbuih di dalam minyak panas, melilitnya sempurna pada sebatang lidi, lalu menyajikannya dengan senyum hangat.

​Ritual ini bukan baru kemarin sore ia lakukan. Sejak tahun 2006, Pak Habibi sudah mulai merajut hidupnya lewat telur gulung. Bagi banyak orang, telur gulung mungkin hanyalah jajanan masa kecil. Namun bagi Pak Habibi, setiap lilitan telur pada tusuk sate adalah napas kehidupan dan bukti keteguhan hati selama 20 tahun terakhir.

Di saat dunia kuliner terus berubah, berganti tren dari croffle hingga kopi kekinian, Pak Habibi memilih untuk tetap tegak di jalur yang sama. Baginya, telur gulung bukan sekadar jajanan. Ia adalah saksi bisu perjuangan hidupnya.

Memulai langkah dari gerbang-gerbang sekolah dasar, ia belajar tentang arti sabar dan berpindah-pindah tempat demi menjemput rezeki. Dengan rasa yang gurih serta harga yang terjangkau, jajanan ini dengan cepat menjadi favorit di kalangan pelajar.

“Awalnya saya jualan di sekolah-sekolah, sering pindah-pindah tempat mengikuti keramaian siswa. Dari situ pelan-pelan mulai dikenal,” ujar Pak Habibi dibincangi saat berjualan di depan Universitas Tridinanti Palembang, Sabtu (18/4/2026).

Titik balik usahanya terjadi pada tahun 2017. Mencium peluang yang lebih besar, Pak Habibi memutuskan untuk “naik kelas” dari lingkungan sekolah dasar menuju lingkungan Universitas Tridinanti Palembang. Di sana, ia tak hanya menemukan pembeli, tapi juga pelanggan setia dari kalangan mahasiswa yang merindukan cita rasa masa kecil. Ia menjadi sosok ikonik yang dirindukan para mahasiswa.

“Di lingkungan kampus saya mulai punya pelanggan dari kalangan mahasiswa dan peluangnya juga lebih besar,” katanya.

Setiap pagi pukul 08.00 WIB, saat kota mulai sibuk, Pak Habibi sudah siap dengan 4 hingga 5 kilogram telur segar. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dagang, melainkan bahan bakar untuk dapur rumah tangganya tetap mengepul. Hingga senja menjemput pada pukul 18.00 WIB, ia konsisten melayani pembeli dengan senyum yang tak pernah pudar.

Usaha ini bukan sekadar sampingan, ini adalah tumpuan hidup. Meski terlihat sederhana, ketekunan Pak Habibi membuahkan hasil yang manis.

​”Alhamdulillah, dari jualan ini cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Yang penting dijalani dengan tekun,” ucapnya.

Kalimat sederhana itu mengandung makna mendalam. Dari pendapatan bersih sekitar Rp300.000 per hari, Pak Habibi membuktikan bahwa ketekunan pada hal kecil bisa membuahkan hasil yang besar.

Usaha ini bukan lagi sekadar dagangan, melainkan pekerjaan pokok yang menyangga hidup keluarganya bertahun-tahun, termasuk saat harus terseok menghadapi sunyinya jalanan kala pandemi Covid-19 melanda.

Yang membuat lapak Pak Habibi selalu diramaikan pengunjung bukan hanya soal rasa telurnya yang pas, melainkan sosoknya yang hangat. Pak Habibi dikenal sebagai pribadi yang asyik dan mudah membaur. Baginya, pembeli bukan sekadar pemberi rupiah, melainkan teman berbincang yang membuat hari-harinya tidak terasa melelahkan.

Banyak mahasiswa datang ke gerobaknya bukan hanya karena lapar, tapi karena kenyamanan. Pak Habibi memiliki “resep rahasia” yang tidak ada dalam adonannya, keramahan. Ia bukan tipikal penjual yang hanya diam menunggu uang. Ia menyapa, bercanda, dan membaur dengan pelanggannya. Di sela suara desis minyak goreng, selalu ada obrolan hangat yang membuat pelanggan merasa seperti kawan lama.

“Kuncinya cuma dua, sabar dan ramah. Kalau kita masaknya pakai hati dan melayani dengan senyum, orang bukan cuma beli rasa, tapi mereka juga merasa dihargai,” ujar Pak Habibi memberikan nasihat.

Kisah Telur Gulung Habibi adalah pengingat bahwa di tengah gempuran kuliner modern yang datang dan pergi, konsistensi dan kualitas tetap menjadi raja. Pak Habibi telah membuktikan bahwa dengan kesetiaan pada profesi, sebuah jajanan tradisional mampu menopang kehidupan dan tetap dicintai melintasi generasi. (Penulis: Tiara Nafitri, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

PROFIL USAHA MIKRO

Nama Usaha: Telur Gulung Habibi

Lokasi Saat: Lingkungan Universitas Tridinanti Palembang (Sejak 2017).

Jam Operasional: 08.00 WIB – 18.00 WIB.

Kapasitas Produksi: 4 – 5 Kilogram Telur per hari.

Estimasi Pendapatan: ± Rp300.000 (Bersih/Hari).

Target Pasar: Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum.

Kunci Keberhasilan: Konsistensi, Kualitas Rasa, dan Keramahan Pelayanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here