
Palembang, SumselSatu.com
Matahari bahkan belum sempat menyapa ufuk timur ketika Ibu Tri sudah sibuk di dapurnya yang mulai mengepul. Di tengah sunyinya pagi, suara denting peralatan masak dan aroma santan yang gurih menjadi simfoni pembuka hari.
Bagi Ibu Tri, tahun 2020 bukan sekadar angka kalender, melainkan titik balik saat keberaniannya diuji. Dengan modal sederhana sebesar Rp2.000.000, ia nekat merajut asa di atas piring-piring sarapan. Dengan tekad dan kejelian melihat kebutuhan pasar, Ibu Tri berhasil membangun usaha yang kini menjadi pilihan banyak orang untuk sarapan.
Ibu Tri adalah seorang pengamat yang jeli. Ia sering memperhatikan tetangga dan para pekerja yang melintas dengan langkah terburu-buru setiap pagi. Mereka butuh energi, tapi seringkali tak punya waktu.
Ada satu celah yang ia tangkap, di daerahnya, mencari sepiring ketupat sayur yang hangat dan otentik susahnya bukan main. Dari sanalah ide itu muncul. Mengapa tidak menyediakan pelabuhan singkat bagi perut-perut lapar sebelum mereka berperang dengan kesibukan dunia? Maka, Nasi Uduk dan Ketupat Sayur Ibu Tri pun lahir.
“Setiap pagi, saya lihat banyak orang membutuhkan sarapan praktis sebelum memulai aktivitas. Namun, belum banyak pilihan, terutama untuk menu ketupat sayur. Dari situlah muncul ide untuk memulai usaha dengan menjual nasi uduk dan ketupat sayur,” ujar Ibu Tri saat dibincangi di sela-sela berjualan di Jalan Letnan Mukmin Nomor 1472, Rabu (22/4/2026).
“Selain karena belum adanya penjual ketupat sayur di sekitar lokasi, usaha sarapan pagi juga memiliki prospek yang baik karena merupakan kebutuhan rutin masyarakat. Selain itu, target pasar dari usaha ini sangat luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sehingga hampir semua kalangan dapat menikmati menu yang disediakan,” Ibu Tri menambahkan.
Perjalanan usaha ini tak selamanya semulus kuah santannya. Ibu Tri harus berhadapan dengan realita pasar yang fluktuatif, harga cabai yang kadang mencekik hingga harga beras yang tak menentu. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah, keteguhan hati.
Hingga hari ini, seporsi kebahagiaan itu tetap ia hargai Rp6.000. Murah bagi pembeli, namun penuh perjuangan bagi Ibu Tri untuk menjaga rasa agar tak pernah luntur kualitasnya.
”Bagi saya, yang penting dagangan habis dan modal berputar. Rezeki sudah ada yang mengatur, yang penting orang-orang tetap bisa sarapan enak tanpa harus bingung soal harga,” ujar Ibu Tri sambil sigap membungkus pesanan.

Menjaga Rasa, Merawat Pelanggan
Strategi Ibu Tri adalah konsistensi. Ia paham betul bahwa pelanggan setianya, mulai dari anak sekolah hingga pekerja harian, sangat bergantung pada kestabilan harga tersebut. Baginya, mengurangi kualitas rasa atau mengecilkan porsi secara ekstrem adalah pantangan.
Ia lebih memilih menerima margin keuntungan yang tipis sekitar Rp80.000 per hari asalkan pelanggannya tidak pergi. Kecil? Mungkin bagi sebagian orang. Namun bagi Ibu Tri, itu adalah simbol kemandirian dan hasil dari keringat yang jujur.
“Meski seporsi dijual Rp6.000, rasa makanan tetap dijaga agar tidak berubah, sehingga kualitas tetap terjamin. Yang terpenting bukanlah memperoleh keuntungan besar, melainkan usahanya dapat terus berjalan dan berputar setiap hari,” katanya.
Pendapatan hariannya yang berada di kisaran Rp250.000 memang fluktuatif. Namun, lokasi strategis di pinggir jalan raya menjadi saksi bisu betapa usahanya telah menjadi bagian penting dari ekosistem pagi di lingkungan tersebut.
Lokasi yang strategis ini memudahkan pelanggan untuk menemukan dan membeli sarapan, baik bagi warga sekitar maupun para pengguna jalan yang melintas.
“Jumlah Rp250.000 tidak selalu tetap karena dipengaruhi oleh jumlah pembeli. Terkadang pendapatan bisa lebih tinggi saat ramai, atau menurun saat kondisi sepi. Dari pendapatan tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh berkisar Rp80.000 per hari, meskipun bisa juga lebih atau kurang tergantung situasi penjualan,” jelasnya.
Usaha Ibu Tri tidak hanya memberikan keuntungan secara finansial, tetapi juga memberikan kemudahan bagi masyarakat sekitar. Kehadirannya membantu orang-orang yang membutuhkan sarapan cepat dan praktis, baik warga sekitar maupun orang yang sedang dalam perjalanan.
Kisah Ibu Tri mengajarkan kita tentang resiliensi atau daya tahan. Di balik sepiring nasi uduk seharga Rp6.000, ada perhitungan yang matang, manajemen modal yang telaten, dan hati yang tulus.
Melalui tangannya, modal kecil tak menghalangi terciptanya dampak yang besar. Ibu Tri membuktikan bahwa bisnis yang berkelanjutan bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi tentang seberapa kuat kita menjaga janji kepada pelanggan, meski badai ekonomi sedang menerpa. (Penulis: Shinta Dwi Ramadhani, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).
PROFIL DATA USAHA
Nama Usaha: Nasi Uduk Ibu Tri.
Modal Awal: Rp2.000.000 (Tahun 2020).
Menu Andalan: Nasi Uduk & Ketupat Sayur.
Harga Per Porsi: Rp6.000 (Tetap stabil meski bahan baku naik).
Lokasi: Strategis di pinggir Jalan Letnan Mukmin Nomor 1472










