Oleh: Meldia Syarla Martiza (NPM: 2401110074).
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini kembali memicu kekhawatiran publik. Banyak pihak menilai fluktuasi kurs hanya berdampak pada korporasi besar, importir, atau pelaku perdagangan internasional. Namun, jika diteropong lebih dalam dari kacamata manajemen, efek domino lesunya mata uang Garuda ini nyatanya telah menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan sehari-hari masyarakat, tak terkecuali bagi Generasi Z (Gen Z).
Secara teoretis, ketika rupiah melemah, harga barang yang mengandalkan komponen atau bahan baku impor otomatis akan mengerek naik. Mulai dari gawai (gadget), suku cadang kendaraan, hingga komoditas pangan pokok pelan-pelan merangkak naik. Kondisi ini langsung memukul daya beli masyarakat. Bagi mahasiswa yang mayoritas masih mengandalkan kiriman bulanan orang tua, situasi ini memicu tekanan finansial yang nyata akibat inflasi gaya hidup dan kebutuhan pokok.
Menariknya, tekanan ekonomi ini justru melahirkan fenomena sosiologis-ekonomis yang positif di kalangan anak muda, maraknya side hustle atau pekerjaan sampingan. Kini, ruang digital dipenuhi oleh mahasiswa yang bertransformasi menjadi reseller, affiliate marketer, content creator, social media admin, hingga perintis usaha mikro berbasis daring (online shop). Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai tren, tetapi dari sudut pandang manajemen, ini merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Berdasarkan data dari berbagai survei ketenagakerjaan dan riset pasar digital global baru-baru ini, lebih dari 50% Generasi Z mengaku memiliki lebih dari satu sumber penghasilan atau side hustle. Motivasi utamanya kini bukan lagi sekadar mencari uang jajan tambahan untuk gaya hidup, melainkan demi bertahan hidup dan menjaga stabilitas finansial di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dalam disiplin ilmu manajemen, fenomena ini bukan sekadar tren ikut-ikutan. Ini adalah bentuk nyata dari adaptive capability (kemampuan beradaptasi), satu pilar krusial agar individu maupun organisasi mampu bertahan (survive) di tengah ekosistem yang dinamis. Pelemahan rupiah secara tidak langsung memaksa Gen Z untuk keluar dari zona nyaman, berpikir kreatif, dan mengoptimalkan sumber daya (resource management) terbatas yang mereka miliki melalui sentuhan teknologi digital.
Selain menambah penghasilan, side hustle juga memberikan pengalaman berharga dalam mengelola usaha. Mahasiswa belajar tentang perencanaan, pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga pelayanan kepada pelanggan. Pengalaman empiris seperti ini bernilai sangat mahal dan tidak seluruhnya bisa diakomodasi oleh lembar-lembar buku teks di dalam kelas.
Namun, setiap strategi adaptasi tentu membawa risiko tersendiri. Tantangan terbesar bagi mahasiswa pelaku side hustle adalah time management (manajemen waktu). Ketidakmampuan membagi porsi perhatian antara tanggung jawab akademik dan tuntutan bisnis sampingan berpotensi menurunkan produktivitas kuliah. Di sinilah kepiawaian dalam menentukan skala prioritas menjadi kompetensi manajemen personal yang wajib dikuasai.
Walhasil, pelemahan nilai tukar rupiah tidak boleh melulu dipandang sebagai momok yang melumpuhkan. Bagi Gen Z yang karib dengan ekosistem digital, situasi sulit ini harus dijadikan momentum emas untuk memantik jiwa kewirausahaan.
Fenomena gurita side hustle saat ini memvalidasi bahwa generasi muda kita tidak pasif meratapi keadaan. Dengan tata kelola yang bijak dan terstruktur, tekanan ekonomi ini justru menjadi kawah candradimuka yang efektif untuk melahirkan generasi baru yang mandiri secara finansial, inovatif, dan siap memenangkan persaingan dunia kerja yang penuh disrupsi di masa depan.
Akhir kata, pelemahan rupiah memang membawa awan mendung bagi perekonomian nasional, tetapi di tangan Generasi Z, mendung tersebut justru mendatangkan hujan kreativitas. Fenomena side hustle yang menjamur saat ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif di tengah gejolak ekonomi, melainkan agen yang adaptif dan solutif. Melalui tata kelola waktu yang bijak, langkah taktis ini tidak hanya akan menyelamatkan dompet mereka hari ini, tetapi juga sedang membentuk fondasi mentalitas wirausaha yang tangguh demi menyongsong Indonesia Emas di masa depan. *










