
Lahat, SumselSatu.com
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Selatan (DPRD Sumsel) mendorong Bank Sumsel Babel (BSB) Kantor Cabang Lahat untuk memperluas ekspansi kredit ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah strategis ini dinilai ampuh untuk memulihkan perekonomian daerah sekaligus memitigasi serta menekan angka rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).
Komitmen tersebut mengemuka saat Komisi III DPRD Sumsel melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Kantor BSB Cabang Lahat dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Kunjungan ini difokuskan pada monitoring tiga instrumen krusial. Yakni, kontribusi dividen BSB terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), realisasi penyaluran kredit produktif bagi pelaku UMKM, serta strategi mitigasi risiko terhadap kredit macet.
Pertemuan yang berlangsung hangat namun substansial ini dihadiri oleh Pemimpin BSB Cabang Lahat beserta jajaran manajemen. Komisi III DPRD Sumsel menegaskan bahwa sebagai salah satu penyumbang PAD terbesar di sektor BUMD, BSB harus mampu menyeimbangkan antara target profitabilitas, fungsi sosial penggerak ekonomi warga, dan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Dalam rapat kerja tersebut, Komisi III menyoroti realisasi dividen yang disetorkan oleh BSB Cabang Lahat kepada pemerintah daerah, khususnya Pemkab Lahat dan Pemprov Sumsel selaku pemegang saham. Dewan mengapresiasi pertumbuhan laba BSB Cabang Lahat yang konsisten memberikan kontribusi positif bagi PAD untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan masyarakat.
Namun, sebagai motor penggerak ekonomi daerah, sektor UMKM tetap mendapatkan porsi pembahasan yang besar. Beberapa catatan dan poin penting yang ditekankan oleh Komisi III DPRD Sumsel antara lain BSB diminta untuk terus memperluas basis nasabah dan meningkatkan efisiensi operasional guna mendongkrak perolehan laba serta setoran dividen ke depan.
Mempercepat birokrasi pengajuan kredit tanpa mengabaikan aspek legalitas, serta memperluas jangkauan ke pelosok desa di Kabupaten Lahat agar pelaku usaha mikro tidak terjerat rentenir atau pinjaman online (pinjol) ilegal.
Meminta BSB tetap waspada menjaga rasio NPL (yang saat ini masih aman di bawah 5%). Jika ada debitur UMKM yang mulai tersendat akibat faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas sawit atau karet, BSB diharapkan proaktif memberikan opsi restrukturisasi kredit sebelum berstatus kredit macet.
Menanggapi arahan tersebut, Manajemen BSB Lahat menjelaskan bahwa analisis kredit yang komprehensif terus dilakukan sebelum pembiayaan dikucurkan guna menjaga kualitas kredit tetap sehat.
Kunjungan kerja ini diakhiri dengan komitmen bersama antara Komisi III DPRD Sumsel dan Bank Sumsel Babel Cabang Lahat untuk menyusun laporan evaluasi berkala demi menjaga performa bank pembangunan daerah ini tetap prima dan akuntabel. (hms/ADV)









