
Palembang, SumselSatu.com
Di sudut Jalan Sentosa, Plaju, tepat di samping sebuah lorong pribadi, asap putih tipis mengepul dari sebuah kedai sederhana. Di sana, aroma gurih kaldu udang menyeruak, mengundang siapa saja yang melintas untuk singgah. Kedai itu dikenal dengan nama Model dan Tekwan Yadi, sebuah usaha kuliner yang bukan sekadar tempat makan, melainkan bukti nyata dari sebuah perjuangan panjang yang dirajut dengan cinta dan keringat.
Berdiri sejak tahun 2010, Model dan Tekwan Yadi adalah buah dari kekompakan sepasang suami istri, Yadi dan Ana. Di dapur mungil mereka, tak ada koki berseragam tinggi, yang ada hanyalah dua insan yang saling berbagi tugas. Mulai dari meracik adonan ikan, memanaskan kuah, hingga melayani pelanggan dengan senyum ramah, semuanya dilakukan bersama.
Makanan khas Palembang ini, menjadi pilihan favorit masyarakat sekitar, khususnya bagi mereka yang selesai berbelanja di pasar maupun warga sekitar.
Bagi mereka, setiap butir tekwan yang disajikan adalah simbol kerja sama. Keselarasan rasa yang dirasakan pelanggan berasal dari keselarasan hati mereka dalam mengelola usaha. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga dan sisa lelah para pengunjung pasar, kedai ini hadir menawarkan kehangatan yang konsisten.
Melihat keberhasilan mereka hari ini, mungkin sulit membayangkan betapa beratnya langkah awal yang mereka tempuh. Modalnya hanya tekad dan uang sebesar 800 ribu rupiah. Dulu, Pak Yadi harus mendorong gerobak, menyusuri jalanan Palembang di bawah terik matahari yang menyengat atau guyuran hujan yang mendinginkan kulit.
“Dulu saya jualan pakai gerobak keliling, panas hujan tetap dijalani. Pelan-pelan nabung dari hasil jualan, sampai akhirnya bisa menetap di sini,” kenang Pak Yadi dengan mata yang menyiratkan ketabahan.
Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Gerobak keliling itu kini telah beristirahat, digantikan oleh tempat menetap yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka. Lokasi yang strategis di dekat pasar kini menjadi rumah bagi para pencinta model dan tekwan setianya.

Menyambung Hidup Melalui Kuah Gurih
Dalam sehari, kedai ini mampu menghabiskan 4 kilogram (kg) tekwan dan 2kg model. Serta 1 kardus mie instan seperti Indomie juga habis terjual. Dengan omzet harian sekitar Rp300.000, usaha kecil ini menjadi pilar utama kehidupan keluarga mereka. Namun bagi Pak Yadi dan istrinya, angka-angka ini lebih dari sekadar statistik ekonomi.
“Alhamdulillah, dari jualan ini kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi. Dari dapur sederhana, lahir rezeki luar biasa, bukan sekadar enak, tapi juga menghidupi keluarga,” ungkapnya penuh syukur.
Setiap mangkuk yang terjual adalah tabungan untuk masa depan anak-anak mereka. Dari uap kuah tekwan yang panas itulah, mereka berhasil membiayai pendidikan buah hati, membuktikan bahwa sebuah usaha yang dimulai dengan niat tulus dan kerja keras mampu mengubah nasib sebuah keluarga.
“Alhamdulillah bisa menyekolahkan anak-anak dengan baik. Meski sederhana bisa membawa dampak besar bagi kehidupan,” ujar bapak dua anak ini penuh syukur.
Buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB, Model dan Tekwan Yadi terus konsisten menjaga rasa. Rahasianya sederhana, bahan yang segar, harga yang membumi, dan ketulusan dalam melayani. Selain itu, jam operasional ini sangat cocok bagi pelanggan yang ingin menikmati sarapan hangat maupun makan siang dengan menu yang lezat dan mengenyangkan.
Keunggulan dari Model dan Tekwan Yadi terletak pada rasa yang konsisten, bahan yang segar, serta harga yang terjangkau. Lokasinya yang strategis di dekat pasar juga menjadi faktor penting dalam menarik pelanggan, terutama bagi mereka yang mencari makanan hangat setelah beraktivitas.
“Harganya murah saja, ramah di kantong, mulai Rp9.000 per porsi,” ucapnya.
Perjalanan sepasang suami istri ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap suapan makanan yang lezat, seringkali terdapat cerita tentang perjuangan yang tak terlihat. Model dan Tekwan Yadi bukan hanya tentang memanjakan lidah, tapi tentang bagaimana ketekunan dan kasih sayang bisa diolah menjadi keberkahan yang menghidupi.
Ke depannya, harapan besar tersampir agar usaha ini terus tumbuh, membawa cita rasa khas Palembang ke lebih banyak orang, sembari tetap menjaga api semangat yang telah mereka nyalakan sejak belasan tahun silam. (Penulis: Nani Puspitasari, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).
PROFIL DATA USAHA USaha
Nama Usaha: Model dan Tekwan Yadi
Pemilik: Bapak Yadi & Ana
Tahun Berdiri: 2010
Sektor Usaha: Kuliner (Makanan Khas Palembang)
Alamat: Jalan Sentosa (Samping Lorong Pribadi), Kawasan Plaju, Palembang.
Jam Operasional: 07.00 – 14.00 WIB (Setiap Hari).
Target Pasar: Masyarakat umum, pengunjung pasar, dan warga sekitar kawasan Plaju.
Menu Utama:
Model: Pempek tahu/telur yang disajikan dengan kuah kaldu gurih.
Tekwan: Bulatan kecil adonan ikan yang disajikan dengan sohun, jamur kuping, dan irisan bengkoang.
Menu Tambahan: Berbagai varian mie instan (Indomie).
Kapasitas Produksi Harian: 4 kg Tekwan, 2 kg Model dan 1 dus Mie Instan.
Keunggulan: Konsistensi rasa sejak tahun 2010, bahan baku segar, lokasi strategis, dan harga yang sangat terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Modal Awal: ± Rp800.000 (Tahun 2010).
Omzet Rata-rata: ± Rp300.000 per hari.
Evolusi Bisnis: Berawal dari pedagang gerobak keliling selama bertahun-tahun hingga akhirnya mampu memiliki tempat berjualan tetap (menetap).









