Hebat! UM Palembang Cetak Rekor Pemilik Guru Besar Terbanyak di LLDikti Wilayah II

Wakil Rektor II UM Palembang Prof Dr Sri Rahayu. (FOTO: SS 1/IST).

Palembang, SumselSatu.com

​Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang terus memantapkan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) terkemuka di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Universitas ini menorehkan prestasi membanggakan di sektor sumber daya manusia (SDM) dengan memiliki 13 Guru Besar (GB), yang merupakan jumlah terbanyak di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II.

​Capaian mentereng ini dibeberkan langsung oleh Wakil Rektor II UM Palembang Prof Dr Sri Rahayu, SE, MM, di hadapan Tim Reses Dapil I DPRD Sumatra Selatan (Sumsel) Masa Sidang VI/2026 dalam pertemuan strategis di kampus setempat, Jumat (3/7/2026).

​Menurut Prof Sri Rahayu, sebaran 13 Guru Besar tersebut saat ini mendominasi beberapa fakultas utama, antara lain ​Fakultas Pertanian 4 orang, ​Fakultas Teknik (Teknik Kimia) 3 orang, ​Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 3 orang dan ​Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) 3 orang.

​Meski memimpin dalam jumlah profesor di wilayah LLDikti II, pihak rektorat mengakui tetap fokus pada regenerasi dan pembenahan dinamika SDM ke depan.

​”Untuk Fakultas Hukum, saat ini kita belum memiliki Guru Besar kembali setelah Profesor yang kita miliki sebelumnya wafat (almarhum Prof Daud Busroh). Selain itu, tantangan kita ke depan adalah masih adanya dosen di Fakultas Ekonomi yang belum menyelesaikan studi S3 (Doktor),” ungkap Prof Sri Rahayu secara terbuka mengenai peta jalan pengembangan akademis kampus.

​Kekuatan SDM yang masif ini menjadi modal utama UM Palembang dalam mengejar target transformasi besar menjadi universitas berbasis riset (Research University) pada tahun 2030. Peningkatan mutu akademis ini ditopang oleh basis akademika yang sangat besar, yakni total 12.663 mahasiswa, dengan 6.924 di antaranya aktif dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) serta bimbingan skripsi.

​Aktivitas riset dan pengajaran di kampus ini dikawal oleh 423 dosen dengan rasio kecukupan yang sangat ideal (1:17), serta didukung oleh 200 tenaga kependidikan (tendik).

​Untuk mendukung ruang riset praktis dan pendapatan mandiri (side income), UM Palembang gencar mengelola aset strategis seperti lahan 108 hektar di Bayung Lencir, Kampus C area perkebunan kelapa sawit produktif seluas 40 hektar, hingga kebun percobaan di Sungai Pinang, Kabupaten Indralaya, yang difokuskan pada hilirisasi komoditas jagung.

​Selain itu, infrastruktur modern berupa proyek pembangunan gedung menara (tower) baru di Fakultas Kedokteran (FK) juga tengah digenjot demi mempertahankan dan memperkuat predikat akreditasi Unggul berstandar internasional.

​Menanggapi pemaparan data komprehensif tersebut, Koordinator Reses Masa Sidang VI/2026 DPRD Sumsel H Chairul S Matdiah, SH, MHKes, menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas lompatan mutu yang ditunjukkan oleh UM Palembang. Menurutnya, pertumbuhan kampus saat ini sudah jauh berbeda ke arah yang jauh lebih modern.

​“Jalan dan gedung sudah bagus, beda dengan zaman saya dulu tahun 1984, jadi tidak ada yang perlu dibantu lagi,” ujar Chairul mengakui bahwa sarana, prasarana, dan mutu pendidikan UM Palembang kini sudah mandiri dan berada di level teratas perguruan tinggi swasta.

60 Persen Dosen Masih Berstatus Tenaga Pengajar

Sebelumnya, Kepala LLDIKTI Wilayah II Prof Dr Iskhaq Iskandar, MSc, memberikan catatan kritis sekaligus peringatan keras mengenai peta kekuatan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan PTS Sumbagsel. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen dosen di wilayahnya saat ini masih berada pada jabatan fungsional terendah, yakni tenaga pengajar dan asisten ahli.

​Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak dosen di lingkungan LLDikti II yang belum memiliki, atau bahkan belum memahami, peta jalur profesi mereka untuk mencapai puncak karier akademik.

​”Kita harus sadar bahwa kenaikan jenjang akademik bukan sekadar urusan administratif, melainkan bukti nyata dari konsistensi seorang pendidik dalam mengembangkan disiplin ilmunya secara berkelanjutan,” tegas Prof Iskhaq.

​Minimnya dosen yang mengurus jenjang akademik berbanding lurus dengan rendahnya populasi Profesor di wilayah tersebut. Data LLDikti Wilayah II menunjukkan fenomena yang timpang. Dari total sekitar 8.800 hingga 9.000 dosen yang bernaung di bawah LLDikti II, jumlah Guru Besar yang aktif kini hanya tersisa 58 orang.

​Kondisi ini menjadi tantangan besar dan pekerjaan rumah (PR) berat bagi seluruh pemangku kepentingan perguruan tinggi untuk bekerja sama meningkatkan kualitas serta jenjang akademik dosen secara masif.

​Guna memangkas persentase dosen fungsional rendah tersebut, LLDIKTI Wilayah II menyatakan terus bergerak mendorong para dosen agar memiliki komitmen jangka panjang dalam menjalani profesinya. Prof Iskhaq mengingatkan bahwa perjalanan menuju puncak karier akademik bukanlah proses yang instan, melainkan buah dari konsistensi riset dan pengajaran. #fly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here