Palembang, SumselSatu.com
Pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) secara besar-besaran oleh Pemerintah Pusat memicu terjadinya turbulensi fiskal (gejolak kondisi keuangan) yang serius di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Defisit anggaran yang mencapai Rp1,9 triliun ini memaksa pemerintah daerah bergerak cepat menggenjot potensi pendapatan baru melalui optimalisasi 7 sektor pajak daerah.
Hal tersebut diungkapkan Anggota DPRD Sumsel Dapil I Abdullah Taufik, SE, MM, guna menjawab kritik tajam civitas akademika Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang dalam sesi dialog Reses Masa Sidang VI Tahun 2026, Jumat (3/7/2026). Di hadapan mahasiswa dan dosen yang mempertanyakan mandeknya realisasi pembangunan hasil Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), ia membeberkan kondisi riil pasang surut keuangan daerah saat ini.
”Kita harus terbuka mengenai kondisi yang ada. Anggaran kita sempat mengalami turbulensi fiskal akibat adanya pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) yang sangat luar biasa dari Pemerintah Pusat. Untuk Sumsel saja, pemotongan mencapai Rp1,9 triliun. Hal ini berdampak besar karena susunan rencana program yang sudah dibuat menjadi berantakan akibat pengurangan sepihak dari pusat tersebut,” beber Abdullah Taufik.
Selain dihantam badai pemotongan TKD, Taufik menyoroti ketimpangan luar biasa yang dialami Sumsel terkait pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas (migas). Berdasarkan data dari rapat bersama SKK Migas, produksi minyak bumi di Sumsel sejatinya sangat masif, yakni mencapai 50 juta barel per tahun dengan nilai perputaran ekonomi menyentuh Rp26 triliun per tahun.
”Namun ironisnya, daerah kita hanya mendapatkan bagian sekitar Rp15 miliar atau cuma sekitar 3 persen melalui skema DBH saat ini. Harusnya Sumsel bisa mendapatkan ratusan miIiar rupiah. Hal ini sudah kita pertanyakan langsung ke kementerian terkait. Penilaian dari empat kementerian, termasuk Kementerian Keuangan dan Kementerian Lingkungan Hidup justru berujung pada pengurangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus benar-benar melihat skala prioritas, mana program yang harus didahulukan,” tambahnya.
Kendati mengalami tekanan fiskal, pemerintah daerah ditegaskan tidak tinggal diam. Saat ini, upaya penggalangan potensi pendapatan baru terus dimaksimalkan melalui 7 sektor pajak daerah, termasuk pajak bahan bakar kendaraan bermotor (BBM), alat berat, air permukaan, kelapa sawit, hingga sektor mineral dan batubara (minerba).
Dampak dari keterbatasan fiskal ini juga berimbas pada penanganan infrastruktur jalan yang dikeluhkan oleh mahasiswa.
Menanggapi keresahan mengenai kerusakan jalan di kawasan Plaju dan ancaman truk besar di jalur Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA), Anggota DPRD Sumsel Aryuda Perdana Kesuma, SSos, memberikan respons taktis.
Terkait wilayah Plaju, Aryuda menyarankan koordinasi intensif dengan pihak Walikota Palembang selaku pemegang wewenang jalan kota. Sementara untuk jalur TAA, tingginya mobilitas kendaraan berat tidak lepas dari skala prioritas pembangunan regional yang tengah berjalan masif.
“Kawasan Tanjung Api-Api (TAA) dan Tanjung Carat saat ini memang sedang menghadapi volume kendaraan yang tinggi karena di sana banyak proyek pembangunan yang lagi berjalan secara masif,” jelas Aryuda.
Tidak hanya infrastruktur fisik, tekanan sosiologis juga merembet ke sektor pendidikan dasar hingga menengah. Anggota DPRD Sumsel Muhammad Toha, SAg, menanggapi serius keluhan mengenai merosotnya literasi anak serta sistem kelulusan otomatis yang membuat anak tingkat SMP pun ada yang belum bisa membaca.
Muhammad Toha menegaskan bahwa di tengah kondisi apa pun, aturan ketat tetap harus dijalankan.
”Sistem saat ini sebenarnya masih memungkinkan siswa untuk tidak naik kelas, terutama jika mereka tidak mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan serta berdasarkan catatan absensi atau kehadiran yang buruk,” tegasnya.
Sebagai solusi taktis menstimulasi minat baca anak yang rendah, Toha menawarkan metodologi praktis lewat buku karangannya sendiri berjudul ‘Satu Bulan Bisa Baca’. Lewat konsistensi membaca cukup 15 menit setiap hari, ia optimis masalah buta aksara pada anak dapat teratasi secara mandiri. #fly










