Potret Sate Mbak Lia: Andalkan Strategi ‘Mulut ke Mulut’, Mampu Hasilkan Omzet Hingga Rp2,2 Juta Per Hari

PELUANG USAHA---Usaha Sate Mbak Lia yang dikelola Ibu Lia Atika, mampu menjual hingga 150 porsi sehari. Sebuaha usaha bisnis yang sangat menjanjikan. (FOTO: Istimewa/Intan Permaisuri).

Palembang, SumselSatu.com

Di dunia bisnis kuliner yang serba digital, Lia Atika membuktikan bahwa kekuatan rekomendasi personal atau word-of-mouth (mulut ke mulut) masih menjadi senjata paling ampuh. Melalui gerai Sate Mbak Lia yang berlokasi di Jalan Tanjung Api-Api, Simpang Lematang, Talang Jambe, ia sukses mengubah hobi memasak menjadi mesin uang dengan omzet harian mencapai Rp2,2 juta.

Sejak dirintis pada tahun 2016, Lia Atika tidak mengandalkan iklan besar-besaran. Kekuatan utamanya terletak pada kepuasan pelanggan yang kemudian menyebar dari satu mulut ke telinga lainnya. Strategi organik inilah yang membuat usahanya tetap kokoh selama hampir satu dekade.

Bagi Lia, strategi “mulut ke mulut” hanya akan berhasil jika produk yang ditawarkan memiliki kualitas di atas rata-rata. Ia sangat selektif dalam memilih bahan baku daging ayam dan kambing yang segar setiap harinya.

​”Saya percaya kalau rasa tidak bisa berbohong. Pelanggan yang puas pasti akan membawa teman atau keluarganya ke sini tanpa saya minta. Itulah mengapa konsistensi bumbu kacang dan proses pembakaran yang pas selalu saya jaga,” ungkap Lia Atika.

Awalnya, Sate Mbak Lia didirikan oleh Mbak Lia sebagai usaha rumahan yang berawal dari hobi memasak. Usaha ini hanya melayani pesanan dalam jumlah kecil untuk lingkungan sekitar. Namun, karena cita rasa sate yang khas dan pelayanan yang baik, usaha ini mulai dikenal lebih luas.

Seiring waktu, jumlah pelanggan semakin meningkat. Dari yang awalnya hanya berjualan di depan rumah, Sate Mbak Lia mampu menarik pelanggan dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja, hingga keluarga. Perkembangan ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk yang ditawarkan.

Kunci sukses Lia terletak pada konsistensi bahan baku. Setiap harinya, ia mengelola produksi untuk 80 hingga 150 porsi. Dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp25.000, Lia tidak hanya menjual rasa, tetapi juga volume penjualan yang stabil.

Jika dikalkulasikan dengan harga jual Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi, Lia mampu mengantongi pendapatan kotor berkisar antara Rp1.200.000 hingga Rp2.250.000 per hari. Sebuah pencapaian luar biasa bagi pelaku UMKM yang mengelola usahanya secara mandi.

​”Bagi saya, bisnis kuliner itu soal lidah. Kalau sekali pembeli merasa dagingnya tidak segar atau bumbunya berubah, mereka tidak akan kembali. Makanya, dari pemilihan daging ayam sampai racikan kacang, saya turun tangan sendiri,” ujar Lia Atika saat menjelaskan sisi operasional bisnisnya.

Dia mengatakan, satenya memilik beberapa keunggulan seperti menggunakan bahan baku segar dan berkualitas, bumbu kacang diracik sendiri dengan resep khas, proses pembakaran sate yang tepat sehingga menghasilkan aroma yang menggugah selera dan porsi yang cukup dan harga yang terjangkau.

“Keunikan rasa inilah yang menjadi daya tarik utama dan membedakan sate saya dari pesaing lainnya,” katanya berpromosi.

Meski dikelola dengan manajemen sederhana, Lia memahami betul prinsip ekonomi. Ia menyadari bahwa kenaikan harga bahan baku seperti daging ayam dan kacang adalah tantangan nyata. Namun, alih-alih menurunkan kualitas, ia lebih memilih melakukan efisiensi dan menjaga kedekatan personal dengan pelanggan.

“Usaha ini masih menggunakan sistem manajemen sederhana. Mulai dari pembelian bahan baku, proses produksi, hingga penjualan dilakukan secara langsung oleh. Meskipun sederhana, sistem ini cukup efektif karena dapat menjaga kualitas dan mengontrol biaya operasional,” kata Lia.

“Namun, ke depannya usaha ini memiliki potensi untuk berkembang dengan menerapkan manajemen yang lebih terstruktur, seperti pencatatan keuangan yang rapi, pembagian tugas, serta pengembangan branding usaha,” tambahnya.

Lia mengaku ada beberapa tantangan yang dihadapi seperti persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, kenaikan harga bahan baku daging ayam dan kacang dan keterbatasan tenaga kerja. Untuk  mengatasinya, dengan menjaga kualitas dan inovasi produk, mengatur strategi harga yang fleksibel, memanfaatkan teknologi untuk pemasaran dan menambah tenaga kerja jika usaha semakin berkembang.

“Termasuk pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi membantu menjangkau pelanggan lebih luas,” katanya.

Keberhasilan Lia Atika ini turut menarik perhatian Intan Permaisuri, mahasiswa Manajemen Universitas Tridinanti Palembang, yang mengkaji usaha ini sebagai bagian dari studi kewirausahaannya. Intan melihat bahwa pelajaran terbesar dari Sate Mbak Lia adalah keberanian untuk memulai dari skala kecil dan tekad untuk mempertahankan kualitas.

​”Sate Mbak Lia adalah potret nyata bahwa keberhasilan usaha tidak selalu butuh modal raksasa di awal, melainkan kreativitas dan kemampuan menjaga kepercayaan konsumen,” kata Intan. (Penulis: Intan Permaisuri, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

PROFIL DATA USAHA

Nama Usaha: Sate Mbak Lia

Nama Pemilik: Lia Atika

Tahun Berdiri: 2016

Jenis Usaha: Kuliner Tradisional

Alamat: Jalan Tanjung Api-Api, Simpang Lematang, Talang Jambe, Palembang.

Menu Utama: Sate Ayam dan Sate Kambing.

Keunggulan Produk: Bahan baku daging segar berkualitas.

Volume Penjualan: 80 – 150 porsi per hari.

Kisaran Harga: Rp15.000 – Rp25.000 per porsi.

Estimasi Omzet Harian: Rp1.200.000 – Rp2.250.000.

Metode Promosi: Word of Mouth (mulut ke mulut) dan optimalisasi pelayanan ramah pelanggan (customer hospitality).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here