
Palembang, SumselSatu.com
Memulai bisnis tidak selalu harus menunggu modal besar. Fenomena munculnya unit usaha rumahan yang sukses membuktikan bahwa perencanaan yang tepat jauh lebih penting daripada angka nol di rekening. Salah satu inspirasi datang dari Sako, Palembang, yakni usaha Pecel Teteh Nur milik Nuraini.
Berawal dari kegemaran menyajikan masakan sehat untuk keluarga, Nuraini menangkap peluang di sektor kuliner harian. Dengan modal awal sebesar Rp2.000.000, ia mampu mengamankan peralatan masak mendasar dan bahan baku berkualitas untuk memulai operasional dari rumah.
“Awalnya saya melihat peluang untuk menjual menu pecel dengan konsep sederhana seperti gado-gado yang praktis, bergizi, dan disukai banyak orang. Dengan modal awal sekitar Rp2 juta, saya membeli peralatan dasar seperti panci, cobek, serta bahan baku awal seperti sayuran segar, tahu, lontong, kacang tanah, gula merah, asam jawa, bumbu dapur, dan perlengkapan lainnya. Pemilihan bahan yang berkualitas menjadi kunci utama agar rasa tetap konsisten dan mampu menarik pelanggan,” ujar Nuraini.
Pecel Teteh Nur fokus pada konsep kesederhanaan yang praktis dan bergizi. Dijual dengan harga Rp15.000 per bungkus, berisi aneka bahan seperti kacang panjang, tauge, tahu, dan lontong, disiram sambal kacang khas yang gurih dengan perpaduan rasa manis dari gula merah dan sedikit asam segar dari asam jawa.
Usaha ini berhasil menjaga keseimbangan antara kualitas rasa dan daya beli masyarakat. Setiap harinya, sekitar 40 bungkus ludes terjual, menghasilkan omzet harian mencapai Rp600.000.
Dalam perspektif ekonomi mikro, usaha ini menunjukkan tingkat pengembalian investasi (ROI) yang sangat progresif. Mengingat omzet harian yang mencapai Rp600.000, titik impas (break-even point) dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat, menjadikannya model bisnis yang efisien.
Keberhasilan ini didorong oleh struktur biaya yang efisien. Dari pendapatan tersebut, margin keuntungan yang diperoleh terbilang sehat, bahkan memungkinkan modal awal kembali dalam waktu singkat (Fast ROI). Profit yang dihasilkan pun kini mulai diputar kembali untuk pengembangan variasi menu.
“Dari omzet tersebut, setelah dikurangi biaya bahan baku dan operasional harian, keuntungan bersih yang diperoleh masih cukup menjanjikan. Dalam waktu relatif singkat, modal awal dapat kembali, dan usaha mulai menghasilkan keuntungan yang bisa digunakan untuk pengembangan bisnis, seperti menambah variasi menu atau meningkatkan kualitas produk,” jelas Nuraini saat ditemui di lokasi usahanya Jalan Bagelen, RT 07 RW 06, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang, Rabu (22/4/2026).
Bukan sekadar soal rasa, Nuraini menekankan pentingnya higienitas dan keramahan dalam pelayanan. Strategi pemasaran yang digunakan pun cukup organik, memanfaatkan kekuatan media sosial dan testimoni dari mulut ke mulut, yang terbukti mampu menarik pelanggan baru setiap harinya.
”Rasa mungkin bisa ditiru, tapi kebersihan dan ketulusan dalam melayani adalah kunci agar pelanggan mau kembali. Bagi saya, pecel ini bukan sekadar dagangan, tapi cara saya berbagi masakan sehat untuk tetangga dan masyarakat,” katanya.
Kisah Pecel Teteh Nur menjadi bukti nyata bahwa hobi yang ditekuni secara konsisten dapat bertransformasi menjadi sumber penghasilan tetap. Bagi calon wirausahawan, usaha ini menjadi prototipe (contoh awal) ideal bahwa modal minimalis tetap bisa menghasilkan bisnis yang manis. (Penulis: Nabila Rayhan Saputri, Mahasiswa Program Studi Manajemem, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).
PROFIL DATA USAHA:
Nama Usaha: Pecel Teteh Nur
Pemilik: Nuraini.
Tahun Berdiri: 2019
Jenis Usaha: Kuliner tradisional (Makanan Rumahan).
Produk Utama: Pecel / konsep sederhana seperti gado-gado
Alamat Usaha: Jalan Bagelen, RT 07 RW 06, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang.
Modal Awal: Rp2.000.000 (Alokasi: Peralatan masak & stok bahan baku awal)
Harga Satuan: Rp15.000 per bungkus
Kapasitas Produksi: ± 40 bungkus / hari
Omzet Harian: ± Rp600.000
Estimasi Omzet Bulanan: ± Rp18.000.000










